Home About Us News Artikel Contact Us Chat Whatsapp Live

Leeb Hardness Tester untuk Pipa Baja

Leeb Hardness Tester untuk Pipa Baja

Leeb Hardness Tester untuk Pipa Baja


Pipa baja atau carbon steel pipes merupakan salah satu jenis pipa serbaguna untuk berbagai kalangan industri, mulai dari migas, pembangkit listrik, furniture, hingga otomotif. Salah satu keunggulan yang membuat pipa karbon ini populer di kalangan industri adalah mampu bertahan di berbagai tekanan tinggi, seperi suhu, panas, sifat destruktif lain, serta telah diakui dunia, khususnya di bidang otomotif. Umumnya pipa karbon baja terbuat dari bahan utama, yakni besi (Fe) dan karbon (Co) yang dicampur dengan bahan lainnya, seperti logam, aluminium, dan sebagainya. Pipa identik dengan fungsinya sebagai saluran air. Sedangkan sifat korosi atau karat memang melekat pada besi. Untuk itu diperlukan campuran karbon guna membuatnya lebih awet kala digunakan sebagai saluran air. Semakin tinggi tingkat karbon, maka semakin rendah pula titik leburnya.

Baja karbon sendiri memiliki tiga klasifikasi berdasarkan kandungan karbonnya, yakni karbon rendah, karbon menengah, dan karbon tinggi. Karbon rendah umumnya memiliki kandungan karbon kurang dari 0,30%, karbon menengah antara 0,30%-0,60%, dan karbon tinggi memiliki kandungan karbon lebih dari 0,60%.

Bisa dibilang proses pembuatan pipa baja ini hampir sama dengan pipa seamless. Pembuatannya sama-sama memakai billet baja yang telah dipanaskan. Nantinya billet itu akan diletakkan dalam cetakan khusus yang diameternya lebih besar dari kebutuhan pipa nantinya. Setelah itu, palu hidrolik yang ditempatkan di bagian tengah akan membuat rongga dalam pipa.  Metode ini umumnya dipakai untuk menghasilkan pipa dalma ukuran diameter yagn besar. Keunggulan dari pipa baja yang ditempa ini adalah hasilnya yang lebih kuat dan tahan lama ketimbang baja tuang.

Konsumen bisa mengenali kandungan serta kualitas dari sebuah pipa baja dengan melihat pada nomornya. Terutama, pada baja karbon dan baja alloy. Pada tahun 1930-an hingga 1940-an, AISI dan Society of Automotive Engineers (SAE) memiliki standar penomoran masing-masing. Hanya saja, sejak tahun 1995, AISI sudah tidak lagi mengembangkan sistem tersebut. Alhasil, sistem SAE lebih banyak dipakai. Dalam sistem SAE, penomoran dilakukan dengan menggunakan 4 digit angka. Digit pertama menunjukkan elemen campuran utama. Digit kedua, mengindikasikan kandungan elemen utama dalam baja tersebut (biasanya menggunakan aturan ini, tapi tidak selalu). Sementara itu, dua digit terakhir menunjukkan kandungan karbon pada pipa baja tersebut. Sebagai catatan, untuk digit kedua pada baja karbon, hanya menggunakan dua angka, yakni 1 dan 2. Angka 1 ditujukan untuk baja yang memperoleh penambahan sulfur. Sementara angka 2 pada digit 2 di baja karbon, menunjukkan adanya proses penambahan sulfur dan fosfor. Selain sistem SAE, ada pula sistem penomoran bernama Unified Numbering System (UNS). Sistem penomoran UNS lebih lengkap dan merupakan hasil adopsi sistem SAE. Sistem ini menggunakan 6 digit kombinasi huruf dan angka. Namun, standar yang ditetapkan oleh UNS dan SAE tersebut juga masih kurang lengkap. Oleh karena itu, ada lembaga lain yang berusaha untuk melengkapinya. American Society for Testing Materials (ASTM) menjadi lembaga yang melakukan pengujian terhadap produk pipa. Sementara itu, American Petrolium Institute (API) secara khusus menguji pipa yang ditujukan untuk industri migas.

Menurut The American Iron and Steel Institute (AISI), material baja disebut baja karbon ketika tidak memiliki kandungan minimum krom, nikel, kobalt, vanadium titanium, atau elemen lain yang sering kali ditambahkan agar bisa menghasilkan efek-efek tertentu. Baja karbon juga memiliki kandungan tembaga dan silikon di bawah 0,40 persen, dan kandungan mangan maksimum sekitar 1,65 persen. Adapun kandungan utama dari baja Janis ini adalah Fe (Ferrum) atau besi yang dipadukan dengan C (Carbon) atau karbon. Besar kecilnya kandungan karbon inilah yang nantinya berpengaruh terhadap tingkat kekerasan material baja. Semakin tinggi kandungan karbon, semakin rendah titik didih untuk peleburannya. hal ini nantinya berpengaruh terhadap kegetasan dan kekerasan baja. Kandungan karbon maksimal yang dibutuhkan adalah sekitar 1,7%. Kadar tersebut berpengaruh terhadap harga pipa baja karbon. Jika disimpulkan, pipa baja karbon adalah pipa baja yang memiliki kandungan besi, karbon sebesar maksimal 1,7%, silikon dan aluminium, mangan yang tidak lebih dari 1,65%, dan unsur-unsur kimia lain seperti oksigen (O), belerang (S), dan nitrogen (N) yang jumlahnya sangat kecil. Dalam pipa baja ini juga terdapat kandungan elemen lain seperti Al, Cr, Co, Ni, dan Mo, yang batas minimumnya tidak ditentukan.

Untuk mengukur tingkat kekerasan pipa baja, kita dapat menggunakan alat leeb hardness tester. Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang metode uji kekerasan leeb untuk besi dan baja, merupakan adopsi identik dari ASTM A956-12, Standard test method forleeb hardness testing of steel products.

Jika anda sedang membutuhkan Leeb Hardness Tester untuk Pipa Baja, silahkan hubungi Sales Representative kami pada kontak di bawah. Kami akan merekomendasikan alat yang cocok untuk kebutuhan di tempat anda.

CV. MEALABS INDONESIA
Jln. Pondok Kelapa Raya Blok G1 No. 3D, Kel. Pondok Kelapa,
Kec. Duren Sawit, Jakarta Timur, DKI Jakarta 13450
0823-9918-5261 (Whatsapp dan Telpon)
021-8694 1748 (Telpon)
yogo@mealabs.com

signature
Back to top
banner